Sebuah diskusi tentang “kedekatan” manusia dengan Allah

Melanjutkan diskusi dengan serendipity55 di http://serendipity55.wordpress.com/2008/04/22/daya-tarik-menarik/ , aku memutuskan untuk membuat postingan ini, sebuah postingan tentang pendapatku mengenai beberapa ayat dan argument dalam postingan serendipity55.

berikut ini adalah qoute Lengkap dari postingan itu

Quote pertama

Happy Tuesday…

Semoga kebaikan dan kebahagiaan hati menjadi pilihan kita menjelang akhir pekan ini karna keruhnya hati lebih pada persepsi yang kita bangun sehingga menjadi realita dalam kehidupan kita.

Seringkali kita mendengar Hadis riwayat Abu Hurairah ra, ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Hal ini lebih menguatkan bahwa sesungguhnya hidup ini adalah rentetan peristiwa dengan daya tarik menarik yang berawal dari pikiran, ide, perasaan atau prasangka. Ketika kita menganggap Allah dekat dengan hamba-Nya maka Ia akan terasa begitu dekat dengan diri kita. Ketika kita merasa hidup ini penuh dengan kebaikan maka kita menarik kebaikan-kebaikan dalam hidup kita. Bahkan ketika kita berpikir dan merasa citra diri rendah maka tindakan kita pun akan memberi respon yang sama.

Realitas hidup tercipta berdasarkan apa yang kita pikirkan, rasakan, percaya dan terima. Cobalah, anda bangun pagi hari dan merasa hari ini sangat buruk sekali dan anda percaya dan menerima bahwa hari itu benar-benar buruk maka hidup akan merespon seperti yang anda inginkan, bahkan kejadian yang biasa-biasa saja akan terlihat buruk bagi anda.

Hukum daya tarik menarik atau istilah fisikanya hukum gravitasi berlaku dalam semua aspek kehidupan. Sayangnya, manusia lebih banyak menarik, berpikir, merasakan, meyakini, dan lebih menerima hal-hal yang negatif dalam kehidupannya. Pola berpikir cenderung berdasarkan pengalaman daripada menciptakan hal-hal yang benar-benar mereka inginkan.

Yeah, only when you believe….

kemudian terjadi beberapa percakapan, nah salah satu yang menarik adalah pernyataan yang mengangkat berapa ayat sebagai argumen, tapi sayangnnya AYAT-AYAT YANG DI GUNAKAN DIPENGGAL-PENGGAL DAN DI ARTIKAN SECARA HARFIAH. Sungguh sangat disayangkan jika ayat-ayat dalam Al Qur’an digunakan dalam cara seperti itu, sangat menyedihkan.

Baiklah kita akan lihat apa yang aku maksudkan.

Pertama :

Quote kedua :
“…dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka (Q.S Al Ahzab: 10)”
dan satu lagi
“sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran (Q.S Yunus: 36)”

ini dari pembahasan

Quote ketiga :

pada kenyataannya Allah SWT sangat dekat dengan hamba-Nya, malah lebih dekat dari urat leher mereka (pernah dengar khan dalam tausiyah?). manusia sendiri yang membuat hijab antara dirinya dengan Allah dengan prasangka-prasangka mereka.

Q.S Al Ahzab :

Quote keempat :

Al Ahzab (GOLONGAN YANG BERSEKUTU)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti [keinginan] orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (1) dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, (2) dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara. (3) Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu zhihar [1] itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu [sendiri]. Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan [yang benar]. (4) Panggillah mereka [anak-anak angkat itu] dengan [memakai] nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka [panggillah mereka sebagai] saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu [2]. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi [yang ada dosanya] apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (5) Nabi itu [hendaknya] lebih utama bagi orang-orang mu’min dari diri mereka sendiri [3] dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak [waris mewarisi] di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mu’min dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik [4] kepada saudara-saudaramu [seagama]. Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab [Allah]. (6) Dan [ingatlah] ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu [sendiri], dari Nuh, Ibrahim, Musa dan ’Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh [1], (7) agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka [2] dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih. (8) Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan ni’mat Allah [yang telah dikaruniakan] kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin taupan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya [3]. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (9) [Yaitu] ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan [mu] dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan [4] dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. (10) Di situlah diuji orang-orang mu’min dan digoncangkan [hatinya] dengan goncangan yang sangat. (11) Dan [ingatlah] ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. (12) Dan [ingatlah] ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib [Madinah], tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi [untuk kembali pulang] dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka [tidak ada penjaga]”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. (13) Kalau [Yatsrib] diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad [5] itu melainkan dalam waktu yang singkat. (14) Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang [mundur]”. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungjawabannya. (15) Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika [kamu terhindar dari kematian] kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (16) Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari [takdir] Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (17) Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami.” Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. (18) Mereka bakhil terhadapmu apabila datang ketakutan [bahaya], kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan [pahala] amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (19) Mereka mengira [bahwa] golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja. (20) Sesungguhnya telah ada pada [diri] Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu [yaitu] bagi orang yang mengharap [rahmat] Allah dan [kedatangan] hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (21) Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya [1] kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (22) Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu [1] dan mereka sedikitpun tidak merobah [janjinya], (23) supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (24) Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, [lagi] mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan [2]. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (25) Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab [Bani Quraizhah] yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan [3]. (26) Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan [begitu pula] tanah yang belum kamu injak [4]. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (27) Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut`ah [5] dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. (28) Dan jika kamu sekalian menghendaki [keridhaan] Allah dan Rasul-Nya serta [kesenangan] di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. (29) Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. (30) Dan barangsiapa di antara kamu sekalian [isteri-isteri Nabi] tetap ta’at pada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia. (31) Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk [1] dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya [2], dan ucapkanlah perkataan yang baik, (32) dan hendaklah kamu tetap di rumahmu [3] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu [4] dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait [5] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (33) Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah [sunnah Nabimu]. Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (34) Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min [6], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut [nama] Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (35) Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak [pula] bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan [yang lain] tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (36) Dan [ingatlah], ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni’mat kepadanya [1] dan kamu [juga] telah memberi ni’mat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya [menceraikannya], Kami kawinkan kamu dengan dia [2] supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk [mengawini] isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. (37) Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. [Allah telah menetapkan yang demikian] sebagai sunnah-Nya [3] pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (38) [yaitu] orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah [4], mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang [pun] selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (39) Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu [5], tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (40) Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah [dengan menyebut nama] Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (41) Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (42) Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya [memohonkan ampunan untukmu], supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya [yang terang]. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (43) Salam penghormatan kepada mereka [orang-orang mu’min itu] pada hari mereka menemui-Nya ialah: “salam”; [1] dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. (44) Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, (45) dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (46) Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. (47) Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung. (48) Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ’iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka berilah mereka mut’ah [2] dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya. (49) Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan [demikian pula] anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (50) Kamu boleh menangguhkan [menggauli] siapa yang kamu kehendaki di antara mereka [isteri-isterimu] dan [boleh pula] menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang [tersimpan] dalam hatimu. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun [1]. (51) Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh [pula] mengganti mereka dengan isteri-isteri [yang lain], meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan [hamba sahaya] yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu [2]. (52) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak [makanannya] [3], tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu [untuk menyuruh kamu keluar], dan Allah tidak malu [menerangkan] yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu [keperluan] kepada mereka [isteri-isteri Nabi], maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti [hati] Rasulullah dan tidak [pula] mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar [dosanya] di sisi Allah. (53) Jika kamu melahirkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu. (54) Tidak ada dosa atas isteri-isteri Nabi [untuk berjumpa tanpa tabir] dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu [hai isteri-isteri Nabi] kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (55) Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat [1] untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya [2]. (56) Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya [3] Allah akan mela’natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (57) Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (58) Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya [4] ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (59) Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah [dari menyakitimu], niscaya Kami perintahkan kamu [untuk memerangi] mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu [di Madinah] melainkan dalam waktu yang sebentar, (60) dalam keadaan terla’nat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. (61) Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum [mu], dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (62) Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu [hai Muhammad], boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. (63) Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala [neraka], (64) mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak [pula] seorang penolong. (65) Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andai kata kami ta’at kepada Allah dan ta’at [pula] kepada Rasul”. (66) Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan [yang benar]. (67) Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (68) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah. (69) Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (70) niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (71) Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat [1] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (72) sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (73)

itu Al Ahzab, sekarang kita ambil 2 ato 3 ayat sebelum dan sesudah yang dijadikan argumen (Al Ahzab:10)

Quote kelima:

Dan [ingatlah] ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu [sendiri], dari Nuh, Ibrahim, Musa dan ’Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh , (7) agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih. (8) Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan ni’mat Allah [yang telah dikaruniakan] kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin taupan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya . Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (9) [Yaitu] ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan [mu] dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. (10) Di situlah diuji orang-orang mu’min dan digoncangkan [hatinya] dengan goncangan yang sangat. (11) Dan [ingatlah] ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. (12)

Lihatlah yang aku tebalkan ? Lihat kalimat dari ayat-ayat sebelum dan sesudahnya ? apakah kalimat

Quote keenam :

pada kenyataannya Allah SWT sangat dekat dengan hamba-Nya, malah lebih dekat dari urat leher mereka (pernah dengar khan dalam tausiyah?). manusia sendiri yang membuat hijab antara dirinya dengan Allah dengan prasangka-prasangka mereka

Masih validkah ayat-ayat pada quote kelima untuk digunakan pada argumen quote keenam? Jelas TIDAK !!!. Karena pada ayat itu tidak membahas tentang isi argumen quote keenam.

Cukup jelash khan ? (Kalo tidak, tolong baca perlahan lagi ayat-ayatnya yach …. :-) )

Ayat berikutnya yang mengalami proses pemenggalan sepihak yaitu Q.S Yunus: 36

Quote ketujuh (Q.S Yunus) :

YUNUS
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Alif Laam Raa [1]. Inilah ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung hikmah. (1)
Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka”. Orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini [Muhammad] benar-benar adalah tukang sihir yang nyata.” (2) Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ’Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. [Dzat] yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (3) Hanya kepada-Nyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya [menghidupkannya] kembali [sesudah berbangkit], agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka. (4) Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah [tempat-tempat] bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan [waktu]. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[2]. Dia menjelaskan tanda-tanda [kebesaran-Nya] kepada orang-orang yang mengetahui. (5) Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan-Nya] bagi orang-orang yang bertakwa. (6) Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan [tidak percaya akan] pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, (7) mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. (8) Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya [1], di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh keni’matan. (9) Do’a [2] mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, [3] dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”.[4] Dan penutup do’a mereka ialah: “Alhamdulillaahi Rabbil `aalamin.” [5] (10) Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang di dalam kesesatan mereka. (11) Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia [kembali] melalui [jalannya yang sesat], seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk
[menghilangkan] bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (12) Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. (13) Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti [mereka] di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (14) Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini [1] atau gantilah dia”. [2] Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar [kiamat]”. (15) Katakanlah: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak [pula] memberitahukannya kepadamu”. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya[3]. Maka apakah kamu tidak memikirkannya? (16) Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa. (17) Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak [pula] kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak [pula] di bumi?” [4] Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan [itu]. (18) Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih [5]. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu [6], pastilah telah diberi keputusan di antara mereka [7], tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (19) Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya [Muhammad] suatu keterangan [mu’jizat] dari Tuhannya?” Maka katakanlah: ” Sesungguhnya yang ghaib itu [8] kepunyaan Allah; sebab itu tunggu [sajalah] olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang menunggu. (20) Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, sesudah [datangnya] bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam [menentang] tanda-tanda kekuasaan Kami. Katakanlah: “Allah lebih cepat pembalasannya [atas tipu daya itu]”. Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami menuliskan tipu dayamu. (21) Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, [berlayar] di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan [apabila] gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin
bahwa mereka telah terkepung [bahaya], maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya semata-mata. [Mereka berkata]: “Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”. (22) Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa [alasan] yang benar. Hai manusia, sesungguhnya [bencana] kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; [hasil kezalimanmu] itu hanyalah keni’matan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (23) Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air [hujan] yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai [pula] perhiasannya [1], dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya [2], tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan [tanaman tanamannya] laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan [Kami] kepada orang-orang yang berfikir. (24) Allah menyeru [manusia] ke Darussalam [3] [surga], dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus [Islam]. (25) Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik [surga] dan tambahannya [1]. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak [pula] kehinaan [2]. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (26) Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan [mendapat] balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari [azab] Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (27) [Ingatlah] suatu hari [ketika itu] Kami mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan [Tuhan]: “Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu”. Lalu Kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu mereka: “Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami. (28) Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, bahwa kami tidak tahu-menahu tentang penyembahan kamu [kepada kami]”. [3] (29) Di tempat itu [padang Mahsyar], tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan. (30) Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup [4] dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]?” (31) Maka [Zat yang demikian] itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan [dari
kebenaran]? (32) Demikianlah telah tetap hukuman Tuhanmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman. (33) Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya [menghidupkannya] kembali?” katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya [menghidupkannya] kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan [kepada menyembah yang selain Allah]?” (34) Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?” Katakanlah: “Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran”. Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali [bila] diberi petunjuk? Mengapa kamu [berbuat demikian]? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (35) Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran [1]. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (36) Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi [Al Qur’an itu] membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya [2], tidak ada keraguan di dalamnya, [diturunkan] dari Tuhan semesta alam. (37) Atau [patutkah] mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “[Kalau benar yang kamu katakan itu], maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil [untuk membuatnya] selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (38) Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan [rasul]. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu. (39) Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Qur’an, dan di antaranya ada [pula] orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. (40) Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan”. (41) Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu [3]. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti. (42) Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu [1], apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan. (43) Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (44) Dan [ingatlah] akan hari [yang di waktu itu] Allah mengumpulkan mereka, [mereka merasa di hari itu] seakan-akan mereka tidak pernah berdiam [di dunia] hanya sesaat saja di siang hari [di waktu itu] mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk. (45) Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari [siksa] yang Kami ancamkan kepada mereka, [tentulah kamu akan melihatnya] atau [jika] Kami wafatkan kamu [sebelum itu], maka kepada Kami jualah mereka kembali [2], dan Allah menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan. (46) Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka [3] dengan adil dan mereka [sedikit pun] tidak dianiaya. (47) Mereka mengatakan: “Bilakah [datangnya] ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?” (48) Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak [pula] kemanfa’atan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.” Tiap-tiap umat mempunyai ajal [4]. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak [pula] mendahulukan [nya]. (49) Katakanlah: “Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaan-Nya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?” (50) Kemudian apakah setelah terjadinya [azab itu], kemudian itu kamu baru mempercayainya? Apakah sekarang [5] [baru kamu mempercayai], padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan? (51) Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim [musyrik] itu: “Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (52) Dan mereka menanyakan kepadamu: “Benarkah [azab yang dijanjikan] itu?” Katakanlah: “Ya, demi Tuhan-ku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput [daripadanya]”. (53) Dan kalau setiap diri yang zalim [musyrik] itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan[1] penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya. (54) Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui [nya]. (55) Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (56) Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit [yang berada] dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (57) Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (58) Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan [sebagiannya] halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu [tentang ini] atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (59) Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia [yang dilimpahkan] atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri [nya]. (60) Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah [atom] di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak [pula] yang lebih besar dari itu, melainkan [semua tercatat] dalam kitab yang nyata [Lauh Mahfuzh]. (61) Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati. (62) [Yaitu] orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (63) Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan [dalam kehidupan] di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat [janji-janji] Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (64) Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (65) Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti [suatu keyakinan]. Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga. (66) Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan [menjadikan] siang terang benderang [supaya kamu mencari karunia Allah]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi orang-orang yang mendengar [1]. (67) Mereka [orang-orang Yahudi dan Nasrani] berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (68) Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung”. (69) [Bagi mereka] kesenangan [sementara] di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka. (70) Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal [bersamaku] dan peringatanku [kepadamu] dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakkal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan [kumpulkanlah] sekutu-sekutumu [untuk membinasakanku]. Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. (71) Jika kamu berpaling [dari peringatanku], aku tidak meminta upah Sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri [kepada-Nya]”. (72) Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. (73) Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka [masing-masing], maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman karena mereka dahulu telah [biasa] mendustakannya [1]. Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas. (74) Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan [membawa] tanda-tanda [mu’jizat-mu’jizat] Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (75) Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran [2] dari sisi Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata”. (76) Musa berkata: “Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini?” padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan”. (77) Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya [3], dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? [4] kami tidak akan mempercayai kamu berdua.” (78) Fir’aun berkata [kepada pemuka kaumnya]: “Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!” (79) Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan.” (80) Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya”. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. (81) Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai [nya]. (82) Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya [Musa] dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. (83) Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” (84) Lalu mereka berkata: “Kepada Allah-lah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, (85) dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari [tipu daya] orang-orang yang kafir.” (86) Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”. (87) Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan [manusia] dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (88) Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”. (89) Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas [mereka]; hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri [kepada Allah]”. (90) Apakah sekarang [baru kamu percaya], padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (91) Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu [1] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (92) Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus [2] dan kami beri mereka rezki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan [yang tersebut dalam Taurat]. Sesungguhnya Tuhan kamu akan memutuskan antara mereka di hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (93) Maka jika kamu [Muhammad] berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (94) Dan sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang rugi. (95) Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman[3], (96) meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (97) Dan mengapa tidak ada [penduduk] suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfa’at kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka [kaum Yunus itu], beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu. (98) Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu [hendak] memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (99) Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (100) Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa’at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (101) Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali [kejadian-kejadian] yang sama dengan kejadian-kejadian [yang menimpa] orang-orang yang telah terdahulu sebelum mereka. Katakanlah: “Maka tunggulah, sesungguhnya akupun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kamu”. (102) Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman. (103) Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka [ketahuilah] aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman”, (104) dan [aku telah diperintah]: “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. (105) Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak [pula] memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat [yang demikian] itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”. (106) Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (107) Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran [Al Qur’an] dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya [petunjuk itu] untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”. (108) Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (109)

diatas merupakan Surah Yunus

Dan ini penggalannya dari quote kedua :

sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran (Q.S Yunus: 36)

Seperti metode diatas, kita ambil 2 atau 3 ayat sebelumnya dan lihat apakah sesuai dengan argumen yang dikemukakan serendipity55

Quote kedelapan :

Demikianlah telah tetap hukuman Tuhanmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman. (33)Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya [menghidupkannya] kembali?”katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya [menghidupkannya] kembali; maka bagaimanakah kamu
dipalingkan [kepada menyembah yang selain Allah]?” (34) Katakanlah:”Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?” Katakanlah: “Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran”. Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali [bila] diberi petunjuk? Mengapa kamu [berbuat demikian]? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (35) Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (36) Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah;akan tetapi [Al Qur’an itu] membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya [2], tidak ada keraguan di dalamnya, [diturunkan] dari Tuhan semesta alam. (37) Atau [patutkah] mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “[Kalau benar yang kamu katakan itu], maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil [untuk membuatnya] selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (38)

Ini dari Quote ketiga :

pada kenyataannya Allah SWT sangat dekat dengan hamba-Nya, malah lebih dekat dari urat leher mereka (pernah dengar khan dalam tausiyah?). manusia sendiri yang membuat hijab antara dirinya dengan Allah dengan prasangka-prasangka mereka.

Ok, sampe disini telah aku siapkan bahan-bahan argument, serta sanggahannya. Diatas tadi adalah bahan mentahnya, sekarang aku akan paparkan lebih sistematis.
Serendipity55 berpendapat bahwa “Kedekatan” atau tidaknya seorang hamba kepada Allah berdasarkan pada prasangka-prasangka hamba tersebut, dengan kata lain, jika hamba itu berprasangka dia dekat dengan Allah maka, otomatis Allah dekat dengan hamba itu juga (weitsss yang bener ajaaaaa semudah itu ???), dari mana serendipity55 mengambil landasan argumen tersebut ?

Ini quote dari serendipity55

pada kenyataannya Allah SWT sangat dekat dengan hamba-Nya, malah lebih dekat dari urat leher mereka (pernah dengar khan dalam tausiyah?). manusia sendiri yang membuat hijab antara dirinya dengan Allah dengan prasangka-prasangka mereka.

…dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka (Q.S Al Ahzab: 10)

sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran (Q.S Yunus: 36)

konteks kalimat: “kita menganggap” adalah prasangka…dan apa yang menjadi prasangka akan mewujud dalam keyakinan, sikap dan tindakan.
jika “kita menganggap” Allah dekat dengan kita maka kita yakin segala sesuatu yang kita lakukan akan dibawah pengawasannya maka dalam tindakan kita akan selalu berusaha selalu dijalan-Nya
Kedua ayat yang mengalami nasib tragis pemenggalan dari ayat-ayat sebelum dan sesudahnya mengalami pergeseran makna yang dramatis dan pelencengan makna yang krusial. Lihat pada Quote kelima:

Dan [ingatlah] ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu [sendiri], dari Nuh, Ibrahim, Musa dan ’Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh , (7) agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih. (8) Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan ni’mat Allah [yang telah dikaruniakan] kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin taupan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya . Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (9) [Yaitu] ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan [mu] dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. (10) Di situlah diuji orang-orang mu’min dan digoncangkan [hatinya] dengan goncangan yang sangat. (11) Dan [ingatlah] ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. (12)

juga pada Quote kedelapan :

Demikianlah telah tetap hukuman Tuhanmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman. (33)Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya [menghidupkannya] kembali?”katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya [menghidupkannya] kembali; maka bagaimanakah kamu
dipalingkan [kepada menyembah yang selain Allah]?” (34) Katakanlah:”Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?” Katakanlah: “Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran”. Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali [bila] diberi petunjuk? Mengapa kamu [berbuat demikian]? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (35) Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (36) Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah;akan tetapi [Al Qur’an itu] membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya [2], tidak ada keraguan di dalamnya, [diturunkan] dari Tuhan semesta alam. (37) Atau [patutkah] mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “[Kalau benar yang kamu katakan itu], maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil [untuk membuatnya] selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (38)

Apakah masih relevan dengan apa yang dimaksud oleh serendipity55 bahwa ayat-ayat (yang malang tersebut) bercerita tentang “ manusia sendiri yang membuat hijab antara dirinya dengan Allah dengan prasangka-prasangka mereka”.

Pada Q.S Al Ahzab: 10, apakah konteks kata prasangka disini ? Prasangka disini lebih mengacu pada bagaimana manusia berpikir (prasangka) tentang apa yang terjadi dalam hidup mereka, cuma sebatas itu saja, tidak menjelaskan tentang efeknya ke hijab, kalaupun ada maka itu terlalu dibuat-buat !!!, tidak !! ayat ini bukan dan tidak bercerita dan menyinggung masalah hijab-hijaban!!!!

Pada Q.S Yunus: 36 Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran” prasangka apa ? dan kebenaran apa ? apakah kebenaran disini merujuk ke “kebenaran hakiki” yang kemudian di terjemahkan sebagai “Allah” dan kemudian dijadikan argumen sebagai “ manusia sendiri yang membuat hijab antara dirinya dengan Allah dengan prasangka-prasangka mereka”

Bersambung …..

(pada bagian berikutnya pembahasan yang lebih dalam tentang “Kedekatan Manusia dengan Allah dengan tambahan argumen QS. Qaaf : 16 dan QS Al-Baqarah: 186)

One comment on “Sebuah diskusi tentang “kedekatan” manusia dengan Allah

  1. Pingback: Sebuah diskusi tentang “kedekatan” manusia dengan Allah (bagian dua) « Opreker’s Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s