Disebuah mobil, sekelompok anak muda baru saja pulang dari clubbing, tiga cowok dan dua orang cewek, malam di Jakarta memang tidak ada bedanya dengan siang, apalagi pas weekend. Renyah mereka tertawa-tawa, kadang-kadang sampai terdengar sampe keluar mobil.
Tiba-tiba salah satu dari mereka nyeletuk.
“Loe pade’ gak seharusnya takut ama pocong” katanya dengan wajah yang penuh dengan keseriusan. Teman-temannya yang lain langsung terdiam, tema ini entah munculnya darimana, tapi seperti biasanya dikelompok itu, mereka menyimak dengan seksama.
“iya …. ngapain lu takut ama pocong? jalan aja susah, tull gak …. tul gakk ?” dan disambut dengan tawa riuh dari teman-temannya yang lain.
“Bisanya loncat doang, mana palanya di ikat lagi, kayak candy ….. apaaanya yang seram?” ia semakin bersemangat. Dan pastinya kalimat tersebut mengundang gelak tawa yang lebih besar lagi. Lalu mulailah teman-temannya yang lain menambahkan dan tawa kembali terdengar dari mobil tersebut.
Satu persatu teman-temannya telah ia drop dirumahnya masing-masing, isi mobil itu tinggal mereka bertiga.
“Yon, nanti temenin gw yach naek ke apartment gw” pinta Reika.
“Kenapa emangnya Ka?” timpal Yon.