Disebuah mobil, sekelompok anak muda baru saja pulang dari clubbing, tiga cowok dan dua orang cewek, malam di Jakarta memang tidak ada bedanya dengan siang, apalagi pas weekend. Renyah mereka tertawa-tawa, kadang-kadang sampai terdengar sampe keluar mobil.
Tiba-tiba salah satu dari mereka nyeletuk.
“Loe pade’ gak seharusnya takut ama pocong” katanya dengan wajah yang penuh dengan keseriusan. Teman-temannya yang lain langsung terdiam, tema ini entah munculnya darimana, tapi seperti biasanya dikelompok itu, mereka menyimak dengan seksama.
“iya …. ngapain lu takut ama pocong? jalan aja susah, tull gak …. tul gakk ?” dan disambut dengan tawa riuh dari teman-temannya yang lain.
“Bisanya loncat doang, mana palanya di ikat lagi, kayak candy ….. apaaanya yang seram?” ia semakin bersemangat. Dan pastinya kalimat tersebut mengundang gelak tawa yang lebih besar lagi. Lalu mulailah teman-temannya yang lain menambahkan dan tawa kembali terdengar dari mobil tersebut.
Satu persatu teman-temannya telah ia drop dirumahnya masing-masing, isi mobil itu tinggal mereka bertiga.
“Yon, nanti temenin gw yach naek ke apartment gw” pinta Reika.
“Kenapa emangnya Ka?” timpal Yon.
“Ahhh ….. lu takut yahhhhh ?” goda Endo. Yon menyambutnya dengan tawa.
“Ahhh ngehek loe pade, semenjak kebakaran tiga bulan yang lalu, selalu aja ada muncul macem-macem tuch” Reika mulai membuka cerita.
“Ada yang dengar suara anak kecil lah …… ada yang ngelihat tembok yang penuh darah lah ….. pokoknya gw gak enak dah mo cerita lengkapnya”
“Yah ….. ama anak kecil aja takut loe, pitak aja palanya” ujar Yon.
“Pala lu peyang mitak pala gituan” balas Reika.
“Tenang aja, nanti gw temanin elu dah” kata Endo.
Mobil mereka akhirnya sampe di apartment Reika, dengan pelan mereka mencari parkiran di basement apartment.
“Set dah Ka’, susah bener nyari parkiran disini”ujar Yon mulai gak sabaran menyetir.
“Turun aja lagi, biasanya di B3 agak lowong tuh”.
Dan mereka pun turun ke lantai yang lebih bawah lagi, di B3, suasananya agak beda dari lantai sebelumnya, tidak terlalu banyak lampu yang nyala, mungkin karna jarang di pergunakan.
“No. .. disono aja, gak terlalu jauh dari pintu masuk” kata Reika sambil menunjuk sudut yang dia maksud. Yon pun mengarahkan mobilnya kearah tersebut. Setelah sampai, Endo dan Reika langsung keluar dari mobil.
“Loe tunggu aja dulu disini yach Yon, gak lama kok” kata Reika sambil menarik tangan Endo, “Ayo buruan, itu rokok matiin aja napa, gak boleh ngerokok didalam Do”. Yon cuma mengangguk pelan, ia membuka sedikit pintu dan jendela mobilnya, kemudian menyalakan PSP Go-nya.
Tidak lama kemudian, battery PSP GO-nya habis, dia cuma bisa mengutuk-ngutuk sendiri, kemudian mengeluarkan Blackberry-nya, ternyata sinyal tidak tembus sampe di tempat itu. Hidungnya naik turun, ia seperti mencium aroma terbakar, seperti rambut yang terbakar. Sambil membatin ia keluar dari mobil.
Seperti mengendus-endus ia seolah-olah berusaha mencari dari mana asal aroma tersebut. Ia mengelilingi mobilnya, setelah dua kali berkeliling, ia kembali duduk lagi di dalam mobilnya, ketika ia lagi bersender, hidungnya kembali mencium aroma itu, seperti jelas sekali ia rasakan. Menoleh kekiri dan ke kanan, namun tak kunjung juga ia temukan sumber aroma tersebut.
Mencoba rilek dengan bermain dengan gadget-nya, tapi itu tidak berlangsung lama, karna ia malah semakin terganggu dengan aroma tersebut. Ia starter mobilnya, lampu mobil ia nyalakan, kemudian ia berputar, berharap menemukan sumber aroma tersebut.
“Damn …. ” ia membatin, kemudian ia kembali memarkir mobilnya. Ia keluar dari mobilnya, dan menuju pintu yang tadi masuki oleh Reika dan Endo. Ia coba tarik pintu itu, agak keras pada awalnya, tapi akhirnya ia berhasil membukanya.
Jalan yang ia lewati, seperti lorong, agak kecil, mungkin cukup hanya untuk 2 orang lewat pada saat bersamaan, seperti emergency exit pada umumnya. Tapi yang satu ini agak panjang, ia bahkan tidak melihat dimana pintu keluarnya. Ia percepat langkahnya, sambil sesekali melihat ke arah Blackberry-nya, berharap mendapatkan sinyal.
Akhirnya ia mendapatkan pintu keluar itu.
“Hufff …..” ia menghela nafas, sambil mengusap keringat yang mulai mengucur di dahinya. Dikiri kanannya, terdapat pintu apartment dengan nomor-nomornya. Sambil berjalan, ia dengan serius memperhatikan nomor-nomor tersebut. Dan dia mengambil kesimpulan bahwa, ia masih harus naik satu lantai lagi. Tidak jauh dari tempat ia berdiri, ia melihat pintu elevator.
Ketika ia keluar dari elevator tersebut, matanya tertumbuk pada nomor yang ada pada pintu yang berada tepat di depannya. 210. Setengah tidak percaya, ia mengucek matanya, berharap yang ia lihat itu salah. Ia melangkah keluar, mendekati pintu tersebut. Perasaannya mulai semakin tidak tenang.
Ia melangkah kembali ke elevator tersebut, menolehkan keatas, karna kaget, ia mundur. Angka yang terdapat di elevator tersebut cuma angka 2. 2 2 2 2 2 2 , itu urutan angka di elevator tersebut.
Nafasnya mulai memburu, matanya semakin liar menatap kiri dan kanan, sialnya, aroma yang ia cium tadi kembali menghinggapi hidungnya. Terngiang di telinganya kata-kata Reika tentang anak kecil, ia tersenyum kecut, sambil membatin “Mana gw bakal takut ama bocah”.
Selesai membatin, ia mendengar suara lengkingan anak kecil, begitu tiba-tiba sehingga membuatnya membatu, ia terdiam, tidak bergerak, ekor matanya melihat anak kecil sedang berlari menjauhinya, ia cuma melihat sekilas punggung anak kecil tersebut.
“Fuck …..” ia setengah berteriak, “Gak mungkin gw ditakut-takutin anak kecil” ia kembali membatin. Tapi ia merasakan seluruh tubuhnya gemetar, tangannya mulai berkeringat. Tiba-tiba, bulu kuduknya berdiri, spontan, ia berlari ….. ia berlari dan terus berlari ……. , berlari sekencang yang ia bisa.
Ketika ia merasa cukup, dan nafasnya mulai terengah-engah, sambil berjongkok, seolah-olah matanya dipaksa melihat satu sudut tertentu, ia mengikuti kearah tersebut, dan matanya seperti terbelalak ketika ia melihat nomor di pintu itu, 210.
-bersambung-