5 cm
21 Februari 2010 aku selesai membaca 5 cm-nya Donny Dhirgantoro.
Ceritanya bagus, mengalir bagaikan air sungai, indah, mengharukan, meberikan kita mimpi bagaimana indahnya persahabatan.
Penuh dengan nasehat-nasehat yang terselip diantara cerita-cerita dan dongeng tentang “romantisnya” persahabatan, menawarkan tentang mitos persahabatan sejati yang cuma mementingkan orang lain, karakter-karakter yang “nyaris tanpa cela” dan cenderung mirip cerita sinetron.
Memberikan gambaran betapa bodohnya seorang wanita yang dalam cerita itu tampak cerdas, matang, penuh perhitungan ternyata adalah wanita bodoh yang tidak mempunyai harga diri sama sekali.
Jalan ceritanya standar banget, mengandalkan moment naik gunung (yang entah udah berapa puluh ribu tulisan dan buku yang menggunakan metoda ini, persis seperti sinetron yang jalan ceritanya nyaris mirip obat generik), cinta segi empat (wuihh sinetron abis dech jaahh).
Woii opreker!!!! Lu nulis cerita aja gak selesai-selesai lho …. .
Oiiii juga, itu cuma hobi man.
Woii opreker ngeles aja loe !!!
(opreker dalam hari membatin “kok tau yah wakakaka”).
Tapi 5 cm mempunyai sisi positif juga sech (terpaksa nech, habis gw di proter mulu sech).
Nah gitu dong Ker !!!!.
Cerita ini menceritakan bagaimana perjuangan mereka yang suci (wuihhh ….. suci ??? perjuangan ???? ) perjuangan yang tanpa lelah, perjuangan yang istimewa untuk diingat (jaahhh, hueekkk ….. tipikal abis dech).
Apanya yang istimewa ??? apanya yang suci ???? apanya yang perjuangan ???.
Tidak ada yang suci, tidak ada yang namanya sama sekali perjuangan. Itulah kehidupan, kalo yang mereka lalui itu mereka definisikan sebagai perjuangan, mereka harus malu !!!!, masih banyak, gw bilang, masih banyak tingkatan kesulitan yang orang lain lalui diluar sana lalui dan mereka tidak mendefinisikannya sebagai perjuangan hidup !!! (jaaaahhh sok banget dech). Ngerjain skripsi dalam beberapa bulan ??? dengan fasilitas yang lengkap ??? komputer ada, fasilitas yang lain ada. Cuihhh …. gw kenal orang yang tidak punya komputer sama sekali dan mampu menyelesaikan skripsinya dalam waktu kurang dari 3 bulan, dan dia juga masih harus kerja waktu menyelesaikan komputernya untuk sekedar membayar biaya kuliahnya.
Oii … gw kira loe mo bahas sisi positifnya dech Ker (sambil geleng-geleng dan mata membelalak ala sinetron).
Kisah cinta yang happy ending …….. jaaaahhhhhh. I hope finding love will that easy ……. fiuhhh .
Generasi reformasi ??? cuihhh …… kemana mereka saat demo masih merupakan hal tabu ??? saat demo masih beresiko kehilangan nyawa, dan saat melakukan demo harus menutupi wajah ???
Generasi fuckin’ reformasi my ass !!!!
Cinta negara ini ??? terlalu jauh ……. terlalu jauh untuk ukuran orang yang kemana-mana bersama-sama, melakukan kegiatan malam bersama-sama, seperti tidak punya kepribadian saja (mengutip kata-katanya Rangga).
Boong aja loe Ker, gw liat waktu loe membaca loe bergetar, mata loe berkaca-kaca.
Iya !!!, tapi loe tau gak kenapa gw bergetar saat membacanya, gw merasakan kebohongan, gw merasakan kemunafikan !!!. Kenapa mata gw berkaca-kaca ??? gw merasa sedih dengan “perjuangan” orang-orang diluar sana yang harus benar-benar berjuang dan bertahan demi hidup sehari-harinya tapi tidak dengan sombongnya mengatakan itu perjuangan, gw merasa sedih dengan definisi “perjuangan” dalama 5 cm yang terlampau naif. Gw sedih, gw sedih ……..