Dibalik bening mata air

Entah sudah berapa lama ia duduk di spot kesukaannya itu, sepertinya sudah cukup lama kalau melihat entah telah berapa banyak puntung rokok yang ada di sekitar kakinya. Tapi ia tetap saja tidak beranjak, walaupun angin malam dan dinginnya udara semakin menusuk. Ia merogoh kantong jaketnya, membuka satu bungkus rokok yang masih baru. Perlahan, dipantiknya korek kesayangannya, lalu ia mulai menghisap rokok itu perlahan.

Sekilas, ia melihat Ipod-nya, melihat kondisi batreinya, kemudian mengganti playlistnya, “Me”, itu playlist yang ia kemudian pilih.

“Memetik gitar dan bernyanyi, Pada waktu tak bertepi” …. ia bersenandung lirih, sambil menatap bintang-bintang yang nampak redup tertutup awan gelap. Suara angin bertiup disela-sela pepohonan yang sayup-sayup terdengar jelas di telinganya. Malam terasa begitu tenang, seiring suara detak jantungnya yang masih berdegup keras.

Untuk saudara tercinta

Untuk jiwa yang terluka

Lirik itu terdengar lirih ditelinganya, suara Iwan Fals yang seakan mengoyak jiwa begitu sinkron dengan moodnya yang lagi berantakan.

“Tengah lagu suaraku hilang, Sebab hari semakin bising”, kali ini, dengan lengking yang tinggi dan suara yang agak keras, ia mengalunkan lirik itu.

Mengoyak paksa nurani

Jauhkan jarak pandangku

Ia terdiam, ketika lirik itu terdengar di telinganya. Memejamkan matanya, meresapi makna kalimat itu. Mencoba mencari makna terpendam yang seakan mengoyak-ngoyak dadanya saat itu, membuatnya seakan terjatuh dalam kelamnya malam yang semakin gelap.

Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta

Walau aku tahu tak terdengar

Kehampaan terasa semakin pekat seiring lirik itu bergema berulang-ulang ditelinganya, entah mengapa, refleks ia memandan kejauhan yang tiada batas.

Amarah sempat dalam dada

Namun akalku menerkam

Kubernyayi dimatahari

Kupetik gitar di rembulan

Rasanya, ia berada dalam relung kepedihan yang begitu dalam, seakan-akan tangannya menggapai ke udara, meminta pertolongan, berharap, seseorang, entah itu siapa, menariknya dari relung pekat kepedihan itu, seakan-akan, kesendirian yang begitu absolut menerpanya, menelannya dalam kesepian dan waktu berhenti disitu.

Kesendiriannya terusik, ketika ia mendengar derap langkah yang semakin mendekat, matanya memicing, berusaha menangkap gambaran sosok tersebut, namun, sang malam sepertinya tidak mempunyai niat untuk membantunya, sosok itu semakin mendekat.

Dibalik bening mata air

Tak pernah ada air mata

Bersamaan dengan lirik itu, sosok itu akhirnya menjadi jelas dimatanya, sosok itu tersenyum lembut, tatapan matanya, seakan menyingkirkan semua keresahan dalam dadanya.

Dibalik bening mata air

Tak pernah ada air mata

–repost from my fb note–

First Love-nya Utada Hikaru

Sebuah cerita, yang terinspirasi dari seorang sahabat.

################################

Sa i go no kisu wa taba ko no flavor ga shita

Niga kute setsunai kaori

Ashita no imagoro ni wa

Anata wa doko ni irundarou

Dare wo omotterundarou

First Love-nya Utada Hikaru mengalun lembut ditelinganya, sebuah mp3 player murahan yang ia beli beberapa waktu yang lalu selalu setia menemaninya kemanapun ia pergi.

You are always gonna be my love

Itsuka darekato mata koi ni ochitemo

I’ll remember to love you taught me how

You are always gonna be the one

Ima wa mada kanashii love song

Atarashi uta utaeru made

Kata-kata itu begitu bergema dalam hatinya, menyebabkan echo yang berulang dan berulang yang nyaris tanpa henti. Suasana hatinya memang sedang gundah. Kegundahan itulah yang membuat ia dan motor butut setianya mengelilingi kota kesayangannya ditengah dinginnya malam.

Ia sendiri bingung mengapa itu terjadi lagi, ia sendiri bingung mengapa rasa itu harus menghampirinya lagi. Sepertinya sudah cukup lama rasa itu hilang tak berbekas, sepertinya sudah cukup lama rasa itu tidak mampir lagi didalam lubuk hatinya.

Malam itu terasa hampa baginya, bintang-bintang yang berkelap-kelip tidak lagi nampak indah seperti biasanya, yang terasa hanya perih yang semakin menyanyat seiring malam yang semakin larut.

Brum… brum … deru motor tuanya berhenti ditepi jalan. Ia melepas helm-nya, duduk disamping motornya dan membakar sebatang rokok kesukaannya. Aroma bensin tercium jelas dari arah motonya bercampur dengan rasa rokoknya bercampur dengan kental.

Ia membiarkan dinginnya malam menerpa seluruh tubuhnya, jaket kesayangannya pun ia lepas.

You are always gonna be my love

Itsuka darekato mata koi ni ochitemo

I’ll remember to love you taught me how

You are always gonna be the one

Mada kanashii love song

Now and forever

……………………….

………………………….

……………………………….

Ia biarkan kesunyian malam itu membalut semua rasa, luka dan kehimpitan yang ia sedang rasakan. Ia biarkan gelapnya malam menelan semua kegundahan dan resah dalam hatinya. Ia membiarkan seluruhnya hanyut.

Thank you, thank you, thank you, you’re far too kind

Now can I get an encore, do you want more

Cookin raw with the Brooklyn boy

So for one last time I need y’all to roar

Now what the hell are you waitin for

After me, there shall be no more

So for one last time, nigga make some noise

Nada dering berbunyi dari telepon selularnya, tanpa melihat siapa penelponnya, ia langsung menolaknya, dan kemudian mematikan teleponnya.

Ia cuma ingin menikmati malam itu, ia cuma ingin membiarkan malam dengan gelap dan dinginnya meraup semua yang sedang berkecemuk dalam hatinya ……………. . Ia cuma bisa membiarkannya saja.

Ia mulai membakar batang rokoknya yang kedua. Sambil tersenyum pahit, melihat persediaan rokoknya yang mulai menipis. Asap-asap rokok itu bermain-main diterpa lembutnya angina malam dan menghilang secara perlahan dari pandangannya. Sebuah kenyataan yang semakin membuat miris perasaannya.

Dihisapnya dalam-dalam rokoknya dan kemudian ia semburkan perlahan asap rokoknya kearah rokoknya, yang membuat baranya semakin terang, seperti secercah cahaya kecil yang saat itu rasanya cukup baginya, cukup baginya di gelapnya malam itu.

Angannya menerawang entah kemana.

Tachidomaru jikan ga

Ugoki dasouto shiteru

Wasureta kunai kotobakari

Ashita no imagoro niwa

Watashi wa kitto naiteru

Anatawo omotterundarou

Lirik demi lirik First Love-nya Utada Hikaru membantu membawa angannya menerawang jauh, jauh entah kemana, ia membiarkannya saja. Entah sudah berapa kali lagu itu berulang dan berulang dan berulang terus tanpa ia menggantinya.

You will always be inside my heart

Itsumo anata dake no basho ga aru kara

I hope that I have a place

in your heart too

Now and forever you are still the one

Ima wa mada kanashii love song

Atarashii uta utaeru made

Sebuah sinar terang lampu mobil seakan membawanya kembali dari entah dimana angannya menerawang tadi. Ia cuma tersenyum kecut saja. Matanya melihat sekeliling, yang ada cuma aspal jalan, dibelakangnya, rumput-rumput yang nyaris setinggi pinggang manusia dewasa.

Ia merebahkan badannya, matanya menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang, bintang yang berkelap-kelip dengan genitnya, yang biasanya merupakan keindahan dan kenikmatin baginya, kali ini, semuanya nampak hampa.

Sekarang ia kembali membakar rokok yang ketiganya. Rasanya pun semakin hambar. Matanya menerawang liar memperhatikan bulan dan bintang-bintang yang bertaburan tanpa awan yang menghalangin cahaya mereka.

Sa i go no kisu wa taba ko no flavor ga shita

Niga kute setsunai kaori

Ashita no imagoro ni wa

Anata wa doko ni irundarou

Dare wo omotterundarou

You are always gonna be my love

Itsuka darekato mata koi ni ochitemo

I’ll remember to love you taught me how

You are always gonna be the one

Ima wa mada kanashii love song

Atarashi uta utaeru made

Tachidomaru jikan ga

Ugoki dasouto shiteru

Wasureta kunai kotobakari

Ashita no imagoro niwa

Watashi wa kitto naiteru

Anatawo omotterundarou

You will always be inside my heart

Itsumo anata dake no basho ga aru kara

I hope that I have a place

in your heart too

Now and forever you are still the one

Ima wa mada kanashii love song

Atarashii uta utaeru made

You are always gonna be my love

Itsuka darekato mata koi ni ochitemo

I’ll remember to love you taught me how

You are always gonna be the one

Mada kanashii love song

Now and forever

Kembali mengalun ditelinganya First Love-nya Utada Hikaru tanpa ada yang mengganggunya kali ini. Ia tersenyum. Membakar lagi sebatang rokoknya, memasang helm half-face-nya, dan …………….

“Waktunya untuk tidur ………….” batinnya dalam hati.

By opreker Posted in Cerpen